Selasa, 10 April 2012

Penjerumusan oleh Rasa Belas Kasihan


Suatu sore aku tengah asik menyantap hidangan dengan seorang sahabat di sebuah café di kawasan pantai kota Padang. Tiba – tiba muncul seorang anak kecil tengah menggendong bayi menghampiri meja kami. Dia menyodorkan sebuah kantong plastik lusuh ke arahku.
Sidakah Ni,” ujarnya dengan tampang dan suara memelas.
Maaf lu Diak,” kataku.
Namun anak itu tak mau pergi setelah aku mengucapkan maaf karena tidak bisa memberinya uang. Aku seketika menghentikan aktivitas makanku dan memandang kedua bocah itu dengan seksama. Bocah perempuan kira-kira berumur tujuh tahun dengan seorang bayi laki-laki sekitar satu tahunan di pangkuannya. Mereka terlihat kumal dan dekil. Pakaian lusuh membalut kedua tubuh mungil ini. Wajah dan rambut mereka kotor, seperti sudah beberapa hari tidak mandi. Atau memang sengaja didandani sekucel mungkin, supaya orang lain meresa kasihan.
Agiahlah Ni, kami dari pagi alun makan,” seru anak itu sambil memegang perutnya dan tetap menyodorkan kantong plastiknya ke arah sahabatku.
“Kasih deh Pid, gue gak punya receh nih,” ujar sahabatku.
Aku menggeleng.
“ Yah pelit banget sih elo. Kasih gopek aja. Biar pergi ni anak.”
“ Kamu lapar?” tanyaku pada anak perempuan itu.
“ Iya,” jawabnya singkat.
“ Mau makan?”
Dia menggeleng. “Kasih uang aja Ni,” ujarnya.
“Lho katanya tadi kamu dan adikmu belum makan, sini makan sama Uni!” aku menimpali.
Dia diam. Ragu – ragu memandang aku dan sahabatku.
“ Apa – apan sih lo?” Sahabatku protes.
“ Udah, lo tenang aja. Biar gue yang ngurus,” kataku.
“Ayo sini duduk!” aku menyuruh anak itu duduk di meja kami.
Dia menuruti kata-kataku. Dia duduk di bangku yang masih kosong dan mendudukkan sang adik di sebelahnya.
Aku memesankan makanan untuk dua orang anak kecil ini. Aku dan sahabatku melanjutkan makan kembali. Kami menyantap hidangan di atas meja itu.. Mereka makan dengan lahap sepertinya sangat menikmati hidangan ini. Selama makan aku menyerbunya dengan beberapa pertanyaan. Dia menjawabnya dengan polos. Dari pertanyaan yang aku lontarkan, aku mendapat beberapa informasi miris tentang mereka.
Anak perempuan itu berumur delapan tahun dan adiknya lelakinya berumur satu tahun tiga bulan. Dia tidak sekolah. Kegiatan sehari – hari meminta – minta di mana ada kempatan. Mereka masih punya orang tua. Sang ayah pergi meninggalkan rumah setahun yang lalu dan sampai saat ini tidak jelas kemana rimbanya. Sehingga mereka hidup dengan meminta belas kasihan orang lain. Saat ku tanya kenapa dia mengemis. Dengan polos dia menjawab, “ karena di suruh Ibu nyari uang buat makan. Ibu juga ngemis.”
Bukannya aku kikir menyumbangkan duit recehku pada pengemis. Tapi aku tak ingin terlibat memberi andil dalam menciptakan manusia – manusia malas dan bermental pengemis. Lihatlah sudah berapa banyak pengemis bergentayangan di setiap sudut negeri ini. Dari segala jenis usia. Bukan hanya orang dewasa, anak- anak pun sering menjadi di jadikan lahan untuk mencari keuntungan. Bahkan kondisi fisik pun tidak lagi dipandang sebagai alasan mengemis. Tidak hanya orang cacat, orang bertubuh normal, sehat, dan segar bugar pun sudi menjadikan pengemis sebagai profesinya. Cukup dengan berpakaian lusuh,bertubuh kumal, menyetel wajah penuh belas kasihan, dan sebuah kaleng. Duduk di pinggiran jalan atau mendatangi orang-orang. Menunggu uluran tangan dari orang-orang yang bersedia memberi.
Kita sering berpikir, gak apa-apalah memberi pengemis itu uang. Lagian nilainya juga kecil gak ngaruh sama uang saku. Sekalian sedekah. Nilai uang yang kita berikan
memang tidak material, lima ratus atau seribu rupiah apalah artinya untuk zaman sekarang yang serba mahal. Tapi coba pikir, pengemis itu gak hanya meminta pada satu orang aja kan? Kalo di kalkulasikan berapa jumlah yang bisa didapat dari mengemis dalam satu bulan, lumayan besar.
Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit. Masih ingat peribahasa ini kan. Kasus pekerjaan mengemis ini dapai kita andaikan sebagai peribahasa tersebut. Anggap saja dalam sehari itu orang yang mau menyumbangkan uangnya ada 100 orang dengan nominal Rp 500 per orang. Berapa penghasilan mereka sebulan? Hitung – hitungannya begini 100 orang x Rp 500 x 30 hari = Rp 1.500.000. Wow. Gaji buruh yang banting tulang tiap hari saja tidak sampai sebesar itu. Untuk sebuah pekerjaan yang “ tanpa usaha” , gaji yang menggiurkan bukan?
Rasa iba dan tidak tega sering membuat kita tidak menyadari bahwa secara tidak langsung kita telas memberi mereka kesempatan untuk memdapatkan hasil dengan jalan pintas tanpa berusaha. Dengan memberi mereka uang, kita tidak membantu malah menjerumuskan mereka menjadi orang malas. Akan seperti apa negara ini, jika generasinya dipenuhi oleh orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Generasi bermental lemah dan kalah pada persaingan hidup. Mereka sudah nyaman dengan kondisi seperti itu, sehingga tidak mau bekerja. Uang yang diterima membuat mereka enggan untuk merubah nasib. Pendidikan pun tidak lagi dipedulikan, yang penting bagaimana mendapatkan uang hari ini. Persetan dengan masa depan. Sikap ini turun temurun, orang tua menanamkan perilaku hidup meminta-minta pada anaknya dari kecil. Bibit terbelakang sudah ada semenjak dini.
Lalu siapa yang dapat merubah kondisi ini? Jangan selalu harapkan pemerintah. Pemerintah seperinya sudah bosan dengan penyakit sosial yang satu ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi pengemis, tetap saja angkanya bertambah. Karena tanpa sadar kita telah membiarkan mereka merajalela dengan uang receh yang kita berikan. Tentu orang yang patut mengubah kondisi ini adalah kita. Orang yang diberi sedikit kelebihan dalam berpikir. Mereka ada karena kita memberikan peluang. Jangan biarkan mereka tetap terpuruk dan berada di zona nyaman itu dengan memberi mereka uang. Sedekah bukan hanya dengan cara itu kan? Jadikan sedekahmu itu sebagai amal jariyah yang pahalanya tetap mengalir walaupun kamu sudah tiada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar