Senin, 26 Maret 2012

Cerita Rakyat


Asni dan Mirah

Diceritakan kembali oleh Samsuni
Asni dan Mirah adalah dua pendekar silat dari Betawi (Jakarta). Keduanya tidak saling mengenal. Asni menetap di daerah Kemayoran (Jakarta Pusat), sedangkan Mirah tinggal di daerah Marunda (Jakarta Utara). Asni mempunyai seorang saudara seayah namun lain ibu. Tirta, nama saudara tiri Asni itu, juga seorang pendekar silat yang bertempat tinggal di Karawang. Antara Tirta dan Mirah telah saling mengenal. Bahkan, Tirta ternyata jatuh hati kepada gadis yang cantik dan sakti itu. Namun, nasib ternyata berkata lain. Pada akhirnya ternyata Asni yang berhasil memperistri Mirah. Bagaimana kisahnya sehingga bukan Tirta yang mendapatkan cinta Mirah? Ikuti kisahnya dalam cerita Asni dan Mirah berikut ini.
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu di Betawi masih terdapat banyak pendekar silat. Dua di antaranya yang cukup terkenal adalah Tirta dan Asni. Kedua pemuda itu adalah kakak beradik, tapi lain ibu. Meskipun bersaudara, namun Asni tidak mengetahui jika ia punya saudara tiri bernama Tirta, sementara Tirta sendiri sudah tahu hal ini dari ibunya. Tirta tinggal bersama ibunya di Karawang, sebuah daerah di tepi kota, sedangkan Asni tinggal bersama ayahnya di Kemayoran.
Tirta dan Asni memiliki perbedaan sifat yang terlihat pada perilaku sehari-hari mereka. Tirta tumbuh menjadi pemuda berandalan. Keahlian beladirinya digunakan untuk membuat kekacauan. Bahkan, Tirta suka merampok dan mencuri. Hasil curiannya ia gunakan untuk mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Sementara itu, Asni tumbuh menjadi pemuda yang berbudi luhur. Meskipun berilmu tinggi, ia tetap santun, rendah hati, dan suka menolong. Tidak mengherankan jika Asni sangat disegani dan namanya menjadi cukup terkenal.
Suatu malam, warga Kemayoran digemparkan oleh sebuah peristiwa perampokan di sebuah rumah orang kaya bernama Babah Yong. Harta bendanya dibawa kabur oleh kawanan perampok. Para centeng (satpam) pun terkapar tak berdaya saat menghadapi kawanan perampok tersebut.
Mendengar kabar itu, penguasa Kemayoran yang bernama Tuan Ruys, Bek (Kepala Kampung) Kemayoran, dan para opas (agen polisi) segera mendatangi rumah Babak Yong untuk melakukan penyelidikan. Setelah mengamati bekas-bekas perampokan itu, Tuan Ruys pun menduga bahwa pelaku perampokan itu adalah orang yang sakti mandraguna.
“Hmm… aku yakin pelakunya bukanlah orang biasa. Hanya orang berilmu tinggilah yang mampu mengalahkan para centeng Babah Yong,” kata Tuan Ruys.
Dengan dugaan itu, penguasa Kemayoran itu langsung teringat pada Asni.
“Ya, siapa lagi kalau bukan Asni. Hanya dialah orang sakti di daerah ini,” gumam Tuan Ruys.
Tanpa berpikir panjang, Tuan Ruys segera memerintahkan Kepala Kampung Kemayoran untuk menangkap Asni. Namun, kepala kampung itu menolak karena ia tidak yakin jika Asni pelakunya.
“Maat, Tuan Ruys. Saya yakin bukanlah Asni pelakunya. Saya sangat mengenal sifat dan perilakunya,” sanggah sang kepala kampung.
“Kalau begitu, coba tunjukkan siapa lagi pendekar sakti di Kemayoran ini selain Asni!” ujar Tuan Ruys.
Rupanya, Kepala Kampung Kemayoran tidak bisa menunjukkan bukti sebagaimana yang diminta Tuan Ruys. Akhirnya pada malam itu, ia bersama para opas segera menangkap Asni dan memasukkannya ke dalam penjara. Asni yang merasa tidak bersalah pun menolak untuk dipenjara.
“Maaf, barangkali tuan-tuan keliru menuduh saya sebagai pelaku perampokan itu. Saat peristiwa itu terjadi saya sedang berada di rumah,” Asni membela diri.
Mendengar pembelaan Asni, akhirnya Kepala Kampung Kemayoran memerintahkan para opas untuk memanggil keluarga dan tetangga Asni untuk dijadikan saksi. Setelah mendapat beberapa pertanyaan, mereka pun memberikan kesaksian bahwa memang benar Asni sedang berada di rumah saat peristiwa perampokan itu terjadi.
“Dugaanku ternyata benar,” kata Bek Kemayoran dalam hati.
Akhirnya Asni pun dibebaskan tapi dengan syarat ia harus menangkap pelaku perampokan itu.
“Jika kamu gagal menangkap perampok itu, maka kamu akan kembali dipenjara,” ancam Tuan Ruys.
Meskipun keputusan itu tidak adil baginya, Asni pun menerima dengan lapang dada. Ia merasa bahwa menjaga keamanan Kemayoran juga termasuk tanggung jawabnya. Keesokan harinya, ia mulai mencari pelaku perampokan yang menyatroni rumah Babah Yong. Karena yakin perampok itu bukanlah warga Kemayoran, ia pun melakukan pencarian hingga ke kampung-kampung lain. Salah satunya adalah Kampung Marunda karena ia tahu bahwa kampung itu terkenal memiliki pendekar sakti bernama Bang Bodong,.
Bang Bodong mempunyai seorang putri yang cantik dan mahir bersilat bernama Mirah. Mira adalah idola bagi setiap pemuda di Marunda. Bahkan, sudah banyak pemuda yang datang melamarnya, namun belum seorang pun yang diterima karena tidak memenuhi syarat yang diajukan Mirah. Syarat itu adalah harus mengalahkan kesaktian Mirah.
Sementara itu, Asni yang hendak memasuki Kampung Marunda tiba-tiba mendapat teguran dari para penjaga kampung karena tidak melapor.
“Hai, anak muda! Berani-beraninya kamu masuk ke daerah kami tanpa izin,” hardik seorang penjaga.
“Masa siang-siang begini harus melapor,” jawab Asni.
Mendengar jawaban itu, para penjaga kampung menjadi tersinggung karena merasa tidak dihargai. Akhirnya, terjadilah pertkelahian antara Asni dengan beberapa orang penjaga kampung. Dengan ketinggian ilmu silatnya, Asni dapat merobohkan para penjaga itu dengan mudah. Salah satu penjaga kampung kemudian melapor kepada Bang Bodong.
“Bang, ada pengacau yang masuk ke kampung kita!” lapor penjaga itu.
Tanpa banyak tanya, Bang Bodong bersama Mirah segera menuju ke tempat kejadian. Saat bertemu dengan Asni, Bang Bodong langsung menyerang pemuda itu. Betapa terkejutnya ia karena serang-serangannya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Asni. Merasa dipermalukan, Bang Bodong mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya. Meskipun umurnya sudah tua, pendekar Marunda itu masih sangat lincah bergerak sehingga Asni harus bersusah payah berkelit ke sana ke mari untuk menghindar.
Setelah beberapa lama pertarungan itu berlangsung, Bang Bodong mulai kelelahan. Begitu ia lengah, Asni langsung melayangkan sebuah tendangan keras tepat mengenai lambung kirinya. Tak ayal, pendekar Marunda itu pun jatuh terpental ke tanah dan tidak bisa melanjutkan pertarungan.
Melihat ayahnya kalah, Mirah langsung menyerang Asni. Pertarungan antara kedua pendekar itu tampak seimbang meskipun pada akhirnya Mirah harus mengakui kesaktian Asni. Saat melihat putrinya kalah, Bang Bodong justru tertawa terbahak-bahak.
“Ha…ha… ha… !”
“Ayah, kenapa menertawaiku seperti itu?” tanya Mirah dengan bingung.
“Akhirnya datang juga jodohmu, anakku,” kata Bang Bodong dengan nada menggoda.
“Apa maksud, Ayah?” Mirah kembali bertanya.
Bang Bodong segera bangkit lalu mendekati putrinya.
“Putriku, apakah kamu sudah lupa dengan janjimu? Bukankah kamu pernah berjanji bahwa jika ada pemuda yang mengalahkanmu maka dialah yang akan menjadi jodohmu?” jelas Bang Bodong mengingatkan putrinya.
Mendengar penjelasan itu, Mirah lalu tersenyum malu-malu. Bang Bodong pun kemudian menyapa Asni.
“Maaf, anak muda. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu ke Marunda?” tanya Bang Bodong kepada Asni.
Asni pun memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya Setelah mendengar penjelasan Asni, Bang Bodong meminta pendapat Asni mengenai janji yang telah dibuat putrinya.
“Ketahuilah, Asni! Putriku pernah membuat janji bahwa siapa pun pemuda yang berhasil mengalahkannya, maka dialah yang berhak menjadi suaminya,” ungkap Bang Bodong seraya bertanya kepada Asni, “Apakah kamu bersedia menikah dengan putriku?”
Pucuk dicinta ulam pun tiba, maksud hati ingin menangkap perampok, Asni malah mendapat gadis cantik dan sakti. Maka, tak ada alasan bagi Asni untuk menolak tawaran itu. Akhirnya, Asni dan Mirah pun menikah. Sebelum pernikahan mereka dilangsungkan, Bang Bodong dan putrinya juga bersepakat untuk membantu Asni mencari perampok itu.
Setelah melakukan penyelidikan, mereka menemukan bukti bahwa perampok itu adalah Tirta yang berasal dari Karawang. Bang Bodong sendiri kenal dengan Tirta karena Tirta beberapa kali berusaha mendapatkan cinta putrinya, yakni Mirah. Namun, mereka sulit menangkap Tirta karena keberadaannya tidak diketahui. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bang Bodong menemukan sebuah cara.
“Satu-satunya cara untuk menangkap Tirta adalah menjebaknya dalam pesta pernikahan kalian,” kata Bang Bodong.
“Maksudnya?” tanya Asni bingung.
“Begini Asni. Tirta itu sangat mencintai Mirah. Aku yakin, dia pasti datang dalam pesta pernikahan kalian,” jelas Bang Bodong.
Setelah itu, mereka pun segera melakukan persiapan-persiapan secara matang, termasuk mengirim undangan kepada Tirta di rumahnya. Selain itu, mereka juga bekerjasama dengan Bek Kemayoran dan Tuan Ruys dengan mengundang mereka ke pesta tersebut.
Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Asni dan Mirah dilangsungkan di kediaman Bang Bodong. Tampak para undangan mulai berdatangan, termasuk Bek Kemayoran dan Tuan Ruys yang lengkap dengan senjatanya. Tak berapa lama kemudian, Tirta pun tiba dan duduk di barisan kursi paling belakang. Namun, Tirta agak curiga karena ia melihat Bek Kemayoran dan Tuan Ruys juga hadir dalam pesta itu dan duduk sejajar dengannya. Sesekali, kedua penguasa dari Kemayoran itu melirik kepada Tirta.
Menyadari dirinya dalam bahaya, Tirta segera meninggalkan pesta itu untuk melarikan diri. Tuan Ruys dan Bek Kemayoran bersama para opas segera mengejarnya. Asni dan Mirah turut melakukan pengejaran. Tirta berhasil dikejar sehingga terjadilah perkelahian antara Tirta melawan Asni dan Mirah. Begitu Tirta lengah, Tuan Ruys melepaskan tembakan ke arah Tirta dan tepat mengenai dada kanannya. Tak ayal, pendekar silat dari Karawang itu langsung roboh. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia sempat berpesan kepada Asni.
“Ketahuilah, Asni! Sebenarnya kita bersaudara, namun lain ibu. Beruntunglah kamu mendapatkan Mirah. Ia gadis yang cantik dan baik hati. Tolong jagalah dia baik-baik!” ungkap Tirta.
Betapa terkejutnya Asni mendengar pengakuan Tirta. Ia pun berusaha mengobati luka saudaranya itu. Namun, nyawa Tirta sudah tidak tertolong lagi. Asni pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyesali semua perbuatan jahat yang telah dilakukan saudaranya itu.
Setelah peristiwa itu, Kemayoran dan Marunda kembali aman. Asni pun memboyong istrinya ke Kemayoran untuk membuka usaha dagang. Berkat kegigihan dan keuletannya, usaha mereka pun maju pesat dan mereka pun hidup berbahagia.
* * *
Demikian cerita Asni dan Mirah dari daerah Betawi atau yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan gemar berbuat baik dan akibat buruk dari sifat suka berbuat jahat. Sifat yang pertama terlihat pada sikap dan perilaku Asni. Ketika hendak membantu para petugas untuk menangkap perampok, ia justru mendapatkan Mirah. Sementara itu, sifat yang kedua terlihat pada sikap Tirta. Akibat perilaku jahatnya itu, Tirta tewas terkena peluru Tuan Ruys.  (Samsuni/sas/224/01-11)

Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/236-Asni-dan-Mirah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar